hmm

July 3rd, 2008 by polaroidhitamputih

friends, i’m moving here

Gosip dan Om Idang

April 26th, 2008 by polaroidhitamputih

Jumat kemarin gue ke PIM menghadiri acara ulang tahun
beberapa teman. Bersama Mike gue melaju melewati tol bari yang langsung
meguhubungkan Bekasi dengan Pondok Indah sehingga terlihat seakan-akan Pondok
Indah adalah halaman belakang rumah gue. Hehehe.

Singkat kata, acara yang dimeriahkan oleh tukar gossip itupun
selesailah. Bintang acara kali ini tidak bisa disangkal lagi adalah Pita yang
tidak henti-hentinya menceritakan “berita baru” yang membuat semua orang
berkumpul, mendengarkan, dan tertawa. Berkumpul 1,5 jam dengan teman-teman yang
lama tidak bertemu (walaupun satu kampus kecil) ini sudah seakan-akan memahami
semua kejadian kampus dalam beberapa bulan terakhir! Itulah hebatnya sebuah
acara gossip!

“iya nih, gue kan curiga trait alpha thalasemia gitu. Jadi pacar
gue juga harus tes thalasemia. Untung Deo negative,” kata Ajeng, menceritakan
berita mengenai tes thalasemianya.

“wah, kalo pacar lo jerawatan boleh ga Jeng?” kata gue
menghina Deo yang menurut Ana berada dalam tampang fisik terburuk – jerawat makin
banyak, dan tambah gendut.

Pulangnya, setelah dari Gramedia, kita ga sengaja denger
suara music: ini jazz live. Menghidari macet karena masih jam 9 kurang, jadilah
kita nonton dulu pertunjukan jazz itu. Dan tak disangka, penampil malam itu
adalah: Idang Rasjidi!

Duduk di belakang Piano Yamaha hitam mengkilat, Om Idang
memencet-mencet tuts pianonya, ngejam bareng seorang pemain drum dan bass. Gila-nya
ini beneran ngejam! Setiap abis satu lagu, drum dan bass akan menunggu Om Idang
main selama beberapa saat, berusaha memahami keinginan dan tujuan Om Idang. Dari
pelan-pelan, bass dan drum mulai menemukan ritmenya. Om Idang selalu diberikan “aksi”
duluan. Setelah itu, bass dan drum yang “beraksi”. Ini asik banget. Ngingetin gue
bahwa jazz itu bukan berarti permainan yang terstruktur, tapi improvisasi!! Ini
bedanya jazz sama klasik menurut gue. Di klasik, ga banyak yang bisa lo
tunjukin dari emosi lo, sedangkan di jazz, lo bukan hanya harus ngeluarin emosi
lo, tapi juga ngerti kapan pemain instrument lain mau nunjukin “emosi”-nya!

Sempet di satu lagu sebelum terakhir, Om Idang dan kawan2
membuat pertunjukan hebat. Dimulai dengan piano jazz ringan, intensitas mulai
meningkat, dan pada akhirnya terjadi kegilaan. Intensitas mencapai puncaknya. Dijamin,
semua orang yang lewat saat itu berhenti dan ngeliat barang sesaat juga! Energy
itu ga mungkin ga terasa! Seakan-akan sebuah seks, foreplay yang romantic dilanjutkan
dengan permainan panas yang lepas control, orgasme, dan dilanjutkan permainan
santai. Seakan-akan ini adalah pembicaraan sehabis seks gila di tempat tidur.

Di akhir pertunjukan, sekitar jam 10 malem, Om Idang bener2
melepas 2 orang “bawahannya” beraksi. Bassis benar2 hilang control dalam
bermain bass, apalagi dengan teriakan2 orang yang terkesima. Drum seakan ga mau
kalah. Dan pada akhirnya, Om Idang bilang “see you next week!” sambil meminta
maaf karena vokalisnya tidak bisa hadir.

Ini bedanya Bekasi dengan halaman belakangnya. Ketika di “halaman
belakang” ada pertunjukan jazz gratis yang elegan tiap minggu, di Bekasi adanya
adalah temu jumpa artis sinetron. Huh!

di perpus sendirian dan bt

April 22nd, 2008 by polaroidhitamputih

hari ini gue sebel banget. bukan karena kuliah IKK yang mundur dari jam 8 pagi ke besok entah jam berapa (?!!), bukan juga karena penelitian gizi yang ribet.

but it all started with Department of Public Health and Department of Nutrition.

gara-gara harus penelitan sampe jam 8 malem, gue terpaksa men-skip ujian oral conversation gue di hari Selasa dan mencari hari lain. jadilah gue ngurus surat dan ijin yang ternyata ribet banget. ini lebih karena si mbak2 administrasi yang selalu ga ada. ga profesional banget deh. maksud gue, masa ada sih ke kamar mandi sampe setengah jam ga keluar2 juga??

nah, setelah beberapa hari yang ribet juga cari hari buat make-up test, akhirnya hari inilah jadinya. kelar diskusi IKK dari jam 3, gue nunggu sampen jam 5 (janjinya), sebelum akhirnya tuh penguji datengan jam 6 kurang. 10 menit kemudian, dia dengan sedikit ga enak bilang, "the exam paper has been brought to depok, so err, we cant do it today." tai lah! dengan niat baik mengibur dia bilang kalo nilai mid term gue bagus dan "you’ll pass anyway", dan bahwa nilai written final gue "below the standard" jadi gue harus tetap oral tes "to make it official." i mean, terlalu banyak kontradiksi di kalimat itu! dan gue benci banget dengan dengan kabar nilai written gue below the standard. dia salah ngomong atau engga gue ga tau, karena akhirnya dia bilang oral tesnya cuma biar resmi aja. kalo emang gue kurang, lah, kenapa ga justru gue disuruh bagus2in oral gue?! aneh!

kenapa gue ga suka? ujian written kemaren tuh ga susah. ga ada grammar!! paling tenses, anak TK juga bisa lah. sama menyusun kalimat. man, kalo gue jelek, gue pengen liat mana yang salah. bukannya gue sombong, tapi paling engga, gue ga mungkin di bawah batas lulus! guru2 ILP gue bisa mencak2 kao denger.

dan karena tadinya gue pikir gue ujian sampe sore dan males macet, jadilah gue janji ama ibu untuk jemput dia kuliah jam 10 malem!! mati ga lo. jailah gue sendirian, di perpus, kadang internetan (lambat dan bikin kesel), kadang nonton Into The Wild di Laptop (mata gue kering banget karena pake kontak lens dan ga bawa cairannya), dan kehausan (ga ada yang jual minum dari sore).

save me!

Parents and Their Children

April 11th, 2008 by polaroidhitamputih

Berbicara tentang hubungan orang tua dengan anak-anak mereka
memang tidak ada habisnya. Pada suatu saat, orang tua pasti memiliki keluhan
tentang anak-anak mereka, yang susah belajar, bandel, tidak menaruh baju kotor
pada tempatnya, pulang larut malam. Anak-anak mereka pun memiliki perasaan
terganggu yang sama, kebebasan yang dikekang, perintah-perintah ga penting, dan
berpikir “kenapa masalah lo dibawa-bawa ke gue sih?!”

Tapi, apa kita sudah berbicara pada frekuensi yang sama? Apa
kita sudah mendengarkan? Apa kita memberikan hak-hak orang tua atau (calon) anak-anak
kita?

Menonton siaran Nanny 911 di Metro TV membuka banyak hal. Bahwa
sesungguhnya sebagian besar dari masalah itu adalah kita tidak tahu bagaimana
berkomunikasi satu sama lain. Keluarga hanyalah kebohongan besar akan sebuah
kebersamaan dan mungkin cuma menjadi pelampiasan keadaan2 di luar rumah. Dan anak-anak,
kadang hanyalah bentuk kekecewaan orang tua akan dirinya sendiri.

Seorang yang selalu bermimpi menjadi pemain piano akan
menyekolahkan anak-anaknya di sekolah musik sejak balita. Gue, yang selalu
ingin anak gue menjadi seniman, sudah berniat mencekoki anak gue dengan
lagu-lagu Chopin, The Beatles, bahkan kalo bisa Manic Street Preachers, jangan
sampe mendengarkan musik-musik sampah yang mulai tidak terkontrol ini. Gue akan
menyediakan perpustakaan besar, dengan koleksi buku2 pilihan gue, agar anak gue
ga perlu jadi orang berwawasan kerdil. Gue akan membuat ruang audio visual
sehingga anak gue bisa nonton film2 pilihan gue sejak kecil dan ga perlu
terpikat film2 Power Rangers. Gila, kebayang ga lo betapa stres anak gue
nanti??

Seorang teman melihat keponakannya yang masih kecil
tergila-gila dengan cerita Ciderella, Snow White dan Beauty and The Beast. Ia gerah.
Berkatalah pada kakaknya-ibu anak itu, “kalo gue punya anak, gue ga bakal
ngebiarin anak gue baca cerita2 kayak gitu! Gue ga mau anak gue jadi Princess
Type!”, teman gue ini berpendapat bahwa tidak ada itu pangeran berkuda putih
dan hidup happily ever after. Jawaban kakaknya, “GET A LIFE!”. Apa iya, kita
harus sesantai itu?

Jangan2 seperti gue bilang, gue adalah orang yang gue ga mau
anak gue menjadi seperti itu. Gue dengerin musik2 sampah, gue tidak berwawasan,
dan ya, gue menonton Power Rangers the movie. Jangan2, temen gue, adalah sang
princess type yang kecewa bahwa tidak ada pangeran kuda putih itu yang
menjemputnya dan membawanya pada kehidupan bahagia selamanya. Gila ya?

Guru bahasa inggris gue frustasi dengan anak perempuan 10
tahunnya yang ga bisa dibilangin. Teman les gue sesekali memukuli anaknya bila
sedang stres saat bekerja sanking bandelnya. Mereka semua berpikir, kenapa anak
gue ga bisa dengerin gue sih? Shit man, EMANG LO DENGER APA YANG ANAK LO
BILANG???

Fiuh… hidup emang ga perah sesimpel itu ya. dan mungkin gue
juga perlu “mendapatkan hidup” (terjemahan “get a life”), hidup lebih santai,
dan berharap aja lo dapet anak dan keluarga sempurna. Apa iya begitu? Its your
call…

Changing

March 28th, 2008 by polaroidhitamputih

Ada hal menarik yang gue perbincangkan dengan Chawpi Tuta
kemarin malam. Ini semua berawal dari film Juno, ya film keren itu. Diawali dengan
sebuah pernyataan “the one that accept you just what you are” dan “the right
person is still gonna think the sun shines out of your ass.” The latter was
just beautiful.

And so, hal ini selalu mengingatkan gue akan suatu
pertanyaan, kalo gitu, could we ask our partner to change for us? Or should we
accept him/her as a whole? Think about it.

Pada akhirnya gue dan Chawpi Tuta memang memiliki banyak
perbedaan dan standar yang –kadangkala- berlawanan arah. Hal ini meyulitkan
karena kita berdua mempunyai beberapa masalah dengan egoisme. Chawpi Tuta
kadang kala bahkan tidak yakin dan menerima dengan lapang dada bahwa dia sedang
menjalani sesuatu dengan gue sekarang. Dia selalu suka menjadi dirinya sendiri,
tanpa harus berkompromi dengan orang lain. Itu membuatnya nyaman. But, she’s
not alone now, she’s with me. Then comes the problems. Gue juga bukan orang
yang mudah untuk mengganti standar2 yang udah gue tetapkan. Both of us seems
never accept what our partner is.

Keadaannya menjadi, gue terlalu banyak meminta. Dan sebaliknya.
Apakah kalian juga begitu?

Chawpi Tuta pernah bilang kalo pasangan yang hebat tuh “always
give, never ask.” You just give and you never ask. And we haven’t there yet. With
all the egosentric mind of us, each of us often think “I’ve done much for this
relationship, it’s your turn!” dan itu ga akan pernah berjalan dengan baik
bukan?

Kesimpulan dari pembicaraan kita malam itu adalah, sebisa
mungkin menghindari pernyataan “please change a bit, hon” dan mengubahnya
menjadi “I’ll change for our sake, dear.” Can we? Well, I’m always sure that we
can be that great, completing each other with all the differences.

And yet, I see the sun shines out of your ass, babe…

celotehan ga peting dari seorang dengan krisis kepercayaan diri

March 16th, 2008 by polaroidhitamputih

ini post pertama gue sejak beberapa bulan terakhir ini. gue makin ga konsisten dengan apa yang gue omongin. besok selasa gue ujian tulis anak. tapi kenapa gue ga tegang ya? apa gue udah ngerasa jago? apa gue malah pasrah terhadap keinginan jadi dokter anak dan kemampuan otak yang sedikit bertolak belakang?

gue baru baca di Kompas hari kemarin tentang seorang cowok yang menjadi backpacker dan bercita2 berkeliling dunia. dari apa yang gue baca, gue menyimpulkan, dia ga punya tujuan. tapi bukan berarti dia ga punya tujuan hidup. buat dia, perjalanan itulah tujuannya, hidupnya. gila ya, gue sampe merinding. btw, dia orang Jawa Timur, sekarang baru berusia 26 tahun.

dia berangkat dengan bekal $ 2000. dari Cina, dia terus ke arah Asia Barat, Afghanistan, Kirgistan, dsb. ya, mungkin beberapa dari kalian ingat blogs tentang cita2 gue berkeliling jadi backpacker. and suddenly, there is this man, doing my dream. dia bisa 7 bahasa, dari bahasa uzbek sampe georgia. pernah digebukin polisi di negara apa tau. cih, gue bahkan jauh lebih pengecut dari itu.

lalu membaca cerita tentang Brad di Rolling Stone. anarkis Amerika yang mati tertembak di Meksiko karena mendukung pemberontakan warga Oaxaca karena pemilu yang curang. dia seperti ingin menjadi Che Guevara, orang Argentina yang berjuang di Kuba, dan mati tertembak di negara lain lagi (Uruguay kalo ga salah ya?). ah, orang2 yang sangat hebat. mengalahkan ketakutan diri mereka sendiri, menjadi kekuatan untuk orang lain. tapi pada akhirnya mereka selalu mati lebih cepat. Che mati lebih cepat. Lennon mati lebih cepat. Munir mati lebih cepat. Gue ingin mati lebih cepat…

tapi gue jadi egois. gue pengen banget punya banyak badan, mengerjakan semua cita2 gue. pergi menjelajahi padang pasir Asia Barat, di kejar2 bangsa kanibal di pesisir Amazon, lalu mati tenggelam di Lombok. ya, sejak kejadian hampir mati gue saat menyelam di Lombok, dimana sungkup oksigen gue terlepas di kedalaman 10-12 meter, gue selalu merasa ingin mati di laut.

gue pengen jadi sukarelawan di tempat2 tergelap dunia. jadi dokter dimana kemampuan pas2an tidak menjadi ukuran. dimana keikhlasan berada jauh di atas tuntutan hukum mal praktek.

tapi gue juga mecintai banyak orang. ibu, Chawpi Tuta, adek2 gue, teman2 yang selama ini berada di samping. gue juga pengen punya keluarga. hidup stabil di kota dimana gue lebih banyak di rumah dan melihat anak gue jadi besar. melihat matahari terbenam seakan ga akan ada matahari besok pagi. gue juga ga bisa mati terlalu cepet karena orang2 ini akan berduka (apa iya?), dan apa lagi yang paling gue bennci selain melihat mereka menangis?

egoisme ga pernah bisa jadi pegangan. walaupun sampe detik ini gue ga pernah tau apa yang ada di depan. mimpi mana yang akan gue jalani?

miranda complex and what its effect on me

January 19th, 2008 by polaroidhitamputih

Membaca artikel tentang Miranda Complex membuat gue tertegun sesaat. Gimana engga, keadaan ini, yang disebut si penulis dengan miranda complex (mengambil nama dari tokoh utama sex anf the city), adalah suatu keadaan yang sedang terjadi di kehidupan kita, dimana perempuan sekarang banyak yang lebih sukses dan memiliki gaji yang lebih besar dari pasangannya. Perempuan2 ini lalu lebih sering menyembunyikan kedudukannya dan besar gajinya dengan berkata bahwa mereka adalah “pegawai biasa” demi menyelamatkan hubungan mereka. Apalagi, belum banyak pria2 sekarang yang mau dengan senang hati berada “di bawah” perempuan, dalam hal apapun. Pria2 ini, para chauvinist pig, merasa bahwa Tuhan lebih mencintai pria dan memberikan semua previledge untuk menjadi yang terdepan. Mereka menutup mata mereka tentang keadaan ini.

Lalu gimana, jika teryata elo sendiri berada dalam keadaan ini?

Cerita ini mau tidak mau membuat gue berpikir dengan keadaan gue. Pasangan gue, walaupun tidak menyembunyikannya (mungkin), jelas berada di depan gue dalam masalah finansial. Bukannya karena dia anak orang kaya dan mempunyai rumah di kawasan elit Jakarta, tapi lebih karena dia udah kerja dan mempunyai penghasilan sendiri dari beberapa tahun yang lalu. Gue? Lo tau gue, masih ngarep uang jajan tiap bulan, uang bensin, sekalinya dapet duit dari job kecil2an, gue abisin buat beli CD atau nonton konser musik. Bapuk deh. Dan gue, berusaha sekali untuk ga jadi babi2 chauvinist.

Keadaan ini meruncing. Bukan karena gue makin ga bisa nerima keadaan ini, tapi karena orang tua pasangan gue ini berpendapat bahwa anaknya ga bakal bisa bergantung hidup pada gue! Damn! Harga diri pria yang udah gue tekan sedemikian dalam pun tidak sanggup menanggung kata2 itu. Gimana engga, bokap nyokap gue mulai dari nol. Orang2 lain pun banyak yang bisa hidup layak walau dengan sederhana. Dan gue, calon dokter, berusaha keras masuk fakultas yang terbaik, berusaha survive dan ga jadi gila, berusaha untk hidup dengan tenang, dianggap ga mampu menjadi tumpuan! Gue!

It hurts my heart so hard. Tapi, hal itu udah cukup berat buat pasangan gue yang terus menerus dalam tekanan untuk memutuskan yang terbaik dalam hidupnya. Ga mungkin lah, gue nunjukin bahwa dengan dia cerita itu, gue tiba2 kehilangan kepercayaan diri. Apa gue harus jadi dokter bajingan yang selalu mikir duit? Apa gue ga bisa jadi dokter yang baik? Apa gue ga bisa jadi tempat bergantung?

Gue bukan dari keluarga dengan kekuatan finansial untuk 7 turunan, bukan juga dari keluarga dengan bekingan di bidang kedokteran yang sedikit banyak feodal ini. tapi gue berusaha survive, dan hidup, bukan Cuma asal hidup, tapi hidup yang baik. Gue Cuma berharap ada jalan yang bisa gue tempuh di depan. ga perlu lapang. Gue Cuma butuh jalan.

conclusion

January 19th, 2008 by polaroidhitamputih

Ini adalah tulisan pertama gue dalam 3 bulan terakhir ini, setelah gue terkena serangan akut kehilangan kepercayaan diri. Di saat orang lain justru sedang giat2nya menulis dan mengatakan apa yang dipikiran mereka, gue justru terpuruk dengan diri gue yang ga jelas sebabnya. Mungkin karena beberapa kejadian yang sungguh menyita pikiran, beberapa permainan roller coaster perasaan yang membuat gue ga bisa berpikir tenang. Ah, gue mulai menyalahkan keadaan lagi. Sudahlah, yang penting gue akan mulai menulis lagi dan mengajarkan hal2 baru pada kalian, hahaha.

Ada beberapa hal yang dalam beberapa saat ke depan gue mau tulis. Yang pertama mungkin tentang artikel yang baru aja gue baca dari Cosmopolitan men, yaitu sebuah artikel tentang meledaknya sebuah perilaku bernama miranda complex. Atau mungkin tentang blogs Aditya Mulya yang menulis bedanya anak bungsu dan sulung. Atau, hm, gimana pesimisnya gue memandang pilkada bekasi, daerah gue sendiri. Yang terakhir ini, gue pikir, buat apa gue mikirin calon2 ga jelas yang gue ga pernah kenal yang mungkin juga ga membawa perubahan apa2 ke gue dan daerah gue tinggal. Mendingan gue mikirin dan berdoa supaya Barack Obama llos jadi kandidat capres dari demokrat dan bukannya Hillary Clinton. Jelas, presiden amerika bakal mengubah dunia. Dia bisa membuat harga minyak dan bensin naik, bisa membuat perang dengan negara mana aja, dan bisa membuat bumi lebih panas atau engga. Gubernur bekasi? Cih, paling ngasi sambutan di pembukaan bekasi square.

Belakangan gue juga dikritik karena gaya menulis gue yang kasar dan kadang terlihat seperti sedang marah. Hm, padahal, gue ga marah, dan sinisme menulis seperti udah menjadi bagian dari gen gue.

3 bulan yang panjang, sekaligus pembelajaran buat gue. Gue jarang nulis tapi membaca buku lebih banyak dari sebelumnya.

Dan, sebagai permulaan, biarkanlah gue mengundurkan diri dari blogs friendster. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi, membuka lembaran blogs baru mempunyai arti yang sama seperti membuka lembaran hidup baru. Dan gue ingin memulai itu.

Sayonara…

God Save The Queen: ayo bicara tentang sepakbola

November 17th, 2007 by polaroidhitamputih

Sudah lama sekali gua ga berbicara tentang sepakbola. Maka, ada 3 hal yang mau gue tulis tentang salah satu passion dalam hidup gue ini.

Yang pertama, tetang Inggris. Dari Macca masih jadi pelatih the Boro, gue uda memprediksi bahwa nih pelatih bakal jadi pelatih Inggris yang gagal. Bukan gimana2, saat di the Boro dia juga udah membuktikan kebodohannya saat dibatai Sevilla 4-0 di final piala UEFA. Akibatnya, sampai kemaren, peluang Inggris ke Piala Eropa nyaris musnah. Berada di peringkat 2, tapi Rusia (dengan etengilan Guus Hiddink), mengintai dengan perbedaan 1 poin dan punya 1 pertandingan sisa melawan Israel. Inggris (dan juga gue) berharap pada Israel. Dan, God Save The Queen! Israel secara tidak terduga mengalahkan Rusia dengan cemerlang. Namun tugas Inggris belum selesai. Mereka harus membantai Kroasia untuk dapat yakin melaju ke Piala Eropa.

Yang kedua, Liverpool. Tim kesayangan gue yang paling angin2an. Belanja jutaan pound untuk pemain2 berkualitas, dan memaksa gue sekeluarga berlangganan Astro, mereka malah terseok-seok di kompetisi lokal dan Eropa. Parah. Sampe2 gue frustasi banget. Tapi saat mereka mengajari Besiktas apa yang disebut sepakbola saat memecah rekor pembantaian 8-0 itu, gue bener2 bangga. Gila ya, ga ngerti kenapa bisa seseorang punya perasaan sekuat ini pada sebuah tim sepakbola yang Cuma ditonton di TV.

Lalu, tentang PSSI. Nurdin Halid bajingan yang akan membuat Indonesia diskorsing dari sepakbola dunia karena kekeraskepalaannya untuk ga mau turun dari ketua PSSI. Dasar perompak gila. Udah terpuruk, dia mau ngajak2 jutaan pencinta sepakbola tanah air buat tengelam bareng2. Tai banget, emang apa yang udah dia kasih buat kita? Gue setuju banget kalo para suporter membuat sebuah people power memecat Nurdin. Semoga bajingan itu mau mundur sendiri, kalo engga, rasanya cara keras patut dipertimbangkan.

Yak, sekian dulu diskusi kita tentang sepakbola. Hanya orang2 beruntung yang dapat merasakan aliran darah sepakbola itu di dalam darahnya, hormonnya, dan hatinya…

pilihan sulit

November 14th, 2007 by polaroidhitamputih

Ada sebuah pemikiran penting yang memenuhi pikiran gue sekarang ini. Pemikiran tentang acara yang akan menjadi pengakhir perjalanan angkatan gue buat jadi dokter. PLD (Pelantikan Lulusan Dokter) adalah sebuah acara yang selalu ditunggu2 semua orang dikampus. Semua angkatan ingin menjadi pemilik PLD yang terbaik.

Gue sendiri udah sejak 2 tahun yang lalu memikirkan hal ini. tapi yang lebih gue pikirkan adalah bagaimana membuat sebuah buku angkatan yang akan melengkapi PLD ke titik sempurnanya. PLD hanya satu waktu, sedangkan buku, lo pegang selamanya. Menulis, dan redaksional selalu menjadi passion gue. Dengan designer sehandal Astri dan fotografer seperti Ana dan bantuan kreatif temen2 gue di BFM, gue optimis. Gue sendiri berharap dapat menjadi editornya.

Tapi, sejak hari gue nulis dimilis tentang betapa kita harus memulai memikirkan masalah itu, orang mulai berbicara tentang gue sebagai ketua PLD. Gue ga usah ngomong mengenai betapa gue tersanjungnya dengan itu. Di saat ada seorang kawan yang berusaha mencalonkan diri sebagai ketua PLD (tapi diam2 banyak yang tidak setuju), temen2 malah nyemangatin gue buat nyalonin diri. Dari yang bilang “elo kompeten tang”, sampai pilihan buta “abis, siapa lagi?”, dan “gue ga kepikiran lagi”. Dan gue tau juga gue akan berdarah2 buat angkatan gue. Apalagi ini kesempatan terakhir buat mengabdi.

Tapi… dilema itu menganggu gue. Gue tau diri gue. Di saat gue jadi ketua, yang paling sering terjadi adalah, gue tidak melakukan hal2 yang seharusnya gue lakukan. Dan itu fatal kalo lo ketua. Sedangkan, ketika gue ga punya beban dan diberi kebebasan berkreasi, gue akan melakukan semua hal sampe hal2 yang bukan job desk gue. Makanya gue berpikir, gue akan lebih berguna di bawah. Sayangnya, dorongan dari temen2 juga ga kecil. Gue sempet mikir, apa gue Cuma tumbal? Atau bahan bercandaan? Apalagi fakta bahwa ketua PLD atau ketua acara PLD hampir selalu anak BFM.

Entahlah… gue belum bisa menghilangkan pikiran ini, walalupun perasaan gue tetep lebih kuat ke buku PLD. Hati gue emang rada lemah, semoga Tuhan kasih gue kekuatan itu…